Selasa, 22 November 2011

PENDIDIKAN AGAMA ISLAM DALAM PERSPEKTIF TALCOTT PARSONS

A.   PENDAHULUAN
Kajian seorang sosiolog dalam melihat sesuatu, senantiasa berangkat dari bawah, berdasarkan fakta-fakta dimasyarakat dengan pendekatan emik, selalu berdasark sosial affect (fakta dilapangan). Dengan demikian ketika akan melihat bagaimana pendidikan berdasarkan pendekatan sosiologis, maka tanyalah bagaimana pendidikan kepada masyarakat dengan menggunakan metode observasi, karena tidak mungkin dapat mengetahui social affact tanpa melakukan observasi. Talcott Parsons, sebagai seorang sosiolog yang termasuk tokoh utama aliran fungsionalisme struktural modern,[1] beliau telah berjasa dalam memotret kondisi masyarakat dengan teori sistem sosial, adaptasi sosial dan tindakan sosial. Teori sosiologi tersebut dapat digunakan untuk memotret realitas sosial, dengan memahami secara obyektif atas kondisi masyarakat, kajian ini diharapkan mampu mencari solusi yang tepat dalam mengembangkan serta menjawab berbagai permasalahan dalam pendidikan agama Islam saat ini. Dalam makalah ini penulis akan membahas bagaimana paradigma sosiologi dalam pandangan Talcott Parsons serta bagaimana konsep pengembangan pendidikan agama Islam berdasarkan teori-teori yang dikembangkan Talcott Parsons.

B.   BIOGRAFI TALCOTT PARSONS
Talcott Parsons lahir disebuah kota kecil di Amerika serikat bagian tengah, yaitu di Colorado Springs pada tanggal 13 Desember 1902 dan meninggal pada tanggal 8 Mei 1979.[2] Ayah Parsons adalah seorang pendeta dan  profesor pada sekolah teologi, kehidupan Parsons banyak dipengaruhi oleh lingkungan yang religius protestanisme asketik. Sebenarnya karir keilmuan Parsons tidak diawali oleh bidang keilmuan yang berhubungan langsung dengan sosiologi, pada tahun 1920 ia masuk ke Amherst College dengan cita-cita ingin menjadi ahli dalam ilmu kedokteran dan biologi, kemudian la melanjutkan di London School of Economics, Disinilah ia banyak menimba ilmu dari Malinowski dan AR Radicliffe-Brown tentang antropologi, yang akhirnya menimbulkan beragam keingintahuan Parsons atas pendekatan-pendekatan fungsionalisme. Pada tahap berikutnya la tertarik dan mengubah pandangan sosiologinya pada ilmuwan sosial Jerman dengan mengambil program doktor di Universitas Heidelberg dan hidup menikmati iklim akademik di bawah kendali tardisi Max Weber.[3]
Seorang ahli Sosiologi Alwin Gouldner menulis buku berjudul "The Coming Crisis of Western Sociology" mengungkapkan bahwa Talcott Parsons menghasilkan "Academic Sosiology" dimasa Amerika Serikat mengalami krisis ekonomi yang dahsyat pada tahun 1930, bahkan aliran tersebut kemudian mempengaruhi di luar A.S. Parsons juga mencoba mencari penyelesaian lebih prgamatis dalam zamannya yang pemikirannya membuahkan theori "Social System". Ini sebabnya teori tesebut juga mempengaruhi pengajaran dan pemahaman sosiologi, yang waktu tahun 1930-an menarik banyak penganut pakar Sosiolog di luar AS. Bahkan menggusur teori-teori sosiologi dalam tradisi Eropa, seperti Max Weber, Karl Mannheim dan lain-lain yang tidak mengesampingkan dimensi falsafah dan sejarah.[4] Akibat pengaruh Amerika Serikat sebagai negara adidaya setelah 1950 yang terus meluas setelah perang dunia kedua, teori Sosiologi di negara berkembangpun terpengaruhi, karena menekuni masalah yang tidak melampaui batas "nation .state". Negara-negara baru dengan kesadaran nasional yang tinggi ingin mengatur struktur kelembagaan dalam masyarakat masing-masing. Sekarang di Indonesia mulai terasa adanya dilemma, karena ``nation state" belum mantap sudah timbul Globalisasi yang pasti merubah pengelompokan dan perilaku-perilaku sosial yang lebih universal.
Parsons tergolong salah seorang pelopor lahirnya sosiologi modern kontemporer, dengan teori tindakan dan teori sistemnya yang populer dalam karya-karya tulisnya berjudul "The Social System ", "The Social Action ".[5]

C.   TEORI SOSIOLOGI TALCOTT PARSONS
Talcott Parsons melahirkan teori fungsional tentang perubahan. Seperti para pendahulunya, Parsons juga menganalogikan perubahan sosial pada masyarakat seperti halnya pertumbuhan pada mahkluk hidup. Komponen utama pemikiran Parsons adalah adanya proses diferensiasi. Parsons berasumsi bahwa setiap masyarakat tersusun dari sekumpulan subsistem yang berbeda berdasarkan strukturnya maupun berdasarkan makna fungsionalnya bagi masyarakat yang lebih luas. Ketika masyarakat berubah, umumnya masyarakat tersebut akan tumbuh dengan kemampuan yang lebih baik untuk menanggulangi permasalahan hidupnya. Dapat dikatakan bahwa Parsons termasuk dalam golongan yang memandang optimis sebuah proses perubahan.[6]
Menurut James M Henslin, paradigma yang dilakukan Parsons merupakan pergeseran dari reformasi sosial menuju teori sosial, dengan mengembangkan model-model yang menitik beratkan bagaimana masyarakat dapat bekerjasama secara harmonis, merangsang aktivisme sosial. Walaupuzi hal ini disesalkan oleh C. Wright Mills, yang kemudian menyeru para sosiolog untuk kembali kepada reformasi sosial.[7]
Menurut Peter Hamilton dalam mengkaji gagasan-gagasan    Parsons, secara umum dapat dipecah dalam 3 fase, yaitu :
1.        Fase pertama, yang berisi tahapan perkembangan tindakan social, tercermin dalam bukunya The Structure of Social Action (1937)
2.        Fase kedua, berisi konsep-konsep system dan kebutuhan-kebutuhan sistem yang sangat penting, sebagaimana tercermin dalam bukunya The Social System (1951)
3. Fase ketiga, terfokus pada upaya-upaya mendefinisikan dan menjelaskan perubahan sosial, hal ini bias dilihat dari bukunya Societies (1967), The System of Modern Societies (1971).[8]
Adapun teori yang dikembangkan Parson, secara garis besarnya meliputi :
1.         Sistem sosial, menurutnya sistem sosial terbentuk dari tindakan sosial individu, hakikatnya teori ini merupakan manifestasi dari teori fungsionalisme Parsons, sebagai kelanjutan dari Spencer, Weber dan Durkheim mewakili para sosiolog, serta Radcliffe Brown dan Malinowski mewakili antropolog. Teori ini berasal dari pemahaman konsep kebudayaan, sistem budaya yang berisi gagasan dan bersifat abstrak menurut Parson harus diwujudkan dalam bentuk sistem sosial, sebagai manifestasi dari seluruh sistem gagasan atau ide sehingga wujud kebudayaan dianggap lebih konkret dalam bentuk tindakan manusia ditengah kehidupan sosial masyarakat, dengan memenuhi empat syarat fungsional, yaitu :
a.         Harus menyesuaikan dengan lingkungan
b.         Memiliki suatu alat untuk mobilisasi sumber daya untuk mencapai tujuan
c.         Harus mempertahankan koordinasi internal
d.        Mempertahankan diri untuk memelihara keseimbangan
2.         Adaptasi sosial, dalam konsep ini sebenarnya Parson menekankan sebuah upaya dengan cara menyesuaikan diri terhadap lingkungannya, hal ini diharapkan dapat mewujudkan sistem sosial dalam kebudayaan agar berfungsi sesuai dengan maknanya.
3.         Tindakan sosial, dalam teori ini menekankan orientasi subjektif yang mengendalikan pilihan individu. Pilihan ini secara normatif diatur dan dikendalikan oleh nilai dan siandar normatif bersama. Inti pemikiran dalam tindakan sosial, adalah :
a.         Memiliki tujuan
b.         Terjadi dalam satu situasi
c.         Secara normatif tindakan itu diatur untuk memenuhi tujuan
Dengan demikian komponen dari tindakan sosial adalah : Tujuan, sifat, kondisi dan norma.[9] Bahasan tentang struktural fungsional Parsons diawali dengan empat fungsi yang penting untuk semua sistem tindakan. Suatu fungsi adalah kumpulan kegiatan yang ditujukan pada pemenuhan kebutuhan tertentu atau kebutuhan sistem. Parsons menyampaikan empat fungsi yang harus dimiliki oleh sebuah sistem agar mampu bertahan, yaitu :
1.        Adaptasi, sebuah sistem hatus mampu menanggulangi situasi eksternal yang gawat. Sistem harus dapat menyesuaikan diri dengan lingkungan.
2.        Pencapaian, sebuah sistem harus mendefinisikan dan mencapai tujuan utamanya.
3.        Integrasi, sebuah sistem harus mengatur hubungan antar bagian yang menjadi komponennya. Sistem juga harus dapat mengelola hubungan antara ketiga fungsi penting lainnya.
4.        Pemeliharaan pola, sebuah sistem harus melengkapi, mernelihara clan memperbaiki motivasi individual maupun pola-pola kultural yang menciptakan dan menopang motivasi.
Teori struktural fungsional mengansumsikan bahwa masyarakat merupakan sebuah sistem yang terdiri dari berbagai bagian atau subsistem yang saling berhubungan. Bagian-bagian tersebut berfungsi dalam segala kegiatan yang dapat meningkatkan kelangsungan hidup dari sistem. Fokus utama dari berbagai pemikir teori fungsionalisme adalah untuk mendefinisikan kegiatan yang dibutuhkan untuk menjaga keiangsungan hidup sistem sosial. Terdapat beberapa bagian dari sistem sosial yang perlu dijadikan fokus perhatian, antara lain ; faktor individu, proses sosialisasi, sistem ekonomi, pembagian kerja dan nilai atau norma yang berlaku. Pemikir fungsionalis menegaskan bahwa perubahan diawali oleh tekanan-tekanan kemudian terjadi integrasi clan berakhir pada titik keseimbangan yang selalu berlangsung tidak sempurna. Artinya teori ini melihat adanya ketidakseimbangan yang abadi yang akan berlangsung seperti sebuah siklus untuk mewujudkan keseimbangan baru. Variabel yang menjadi perhatian teori ini adalah struktur sosial serta berbagai dinamikanya. Penyebab perubahan dapat berasal dari dalam maupun dari luar sistem sosial.

D.    PENDEKATAN SOSIOLOGI DALAM PENDIDIKAN AGAMA ISLAM
Pendekatan sosiologi adalah salah satu perspektif atau paradigina sosiologi yang berkaitan dengan latar belakang kehidupan sosial masyarakat. Berdasarkan teori-teori sosiologi Parsons diatas maka pendidikan agama Islam sebagai wujud kebudayaan, menyangkut prilaku manusia dalam berinteraksi dengan masyarakat dan lingkungannya sebagai sistem sosial, harus memenuhi beberapa hal, diantaranya, :
1.         Kegiatan pendidikan agama Islam harus mampu menyesuaikan dirt dengan kondisi serta situasi lingkungan pendidikan.
2.         Aktivitas pendidikan agama Islam harus memperhatikan institusi dan peralatan yang diperlukan dalam rangka mobilisasi
3.         Melakukan koordinasi dengan sub sistem-sub sistem lain yang terkait dalam rangka mendukung terselenggaranya aktifitas
4.         Mempersiapkan konsep pendidikan agama Islam yang berorientasi pada aspek kesinambungan masyarakat berdasarkan fakta sosial.
Dengan demikian maka pendidikan agama Islam dalam perspektif Parson secara sistemik harus dapat melahirkan pribadi manusia yang "kaffah ", yaitu manusia yang memiliki sistem budaya dengan kekuatan iman (kepercayaan), pengetahuan, ketaatan norma dan komitmen terhAdap nilai­nilai Islam. Sistem budayanya mampu memberikan kontrol terhadap sistem sosial dalam wujud intitusi, pergaulan dan komunikasi yang Islami. Sistem sosialnya mampu melahirkan sikap clan kepribadian yang menarik simpatik, dibarengi dengan sistem prilaku yang terpuji, karena diwujudkan dalam pergaulan sesuai dengan norrna clan nilai-nilai akhlaq al karimah. Dengan prilaku yang baik, peserta didik dalam kegiatan pendidikan agama Islam akan mendukung citra kepribadian muslim yang menjadi tujuan pendidikan agama Islam, mendukung institusi Islam sebagai lembaga terhormat dan pada akhirnya akan menjungjung tinggi sistem budaya "Al-Islamu ya'lu walaa yu'laa 'alaihi"

E.    KESIMPULAN
Berdasarkan uraian tersebut, dapat diambil kesimpulan bahwa teori sosiologi yang digagas oleh Talcott Parsons dengan sistem sosial, adaptasi sosial dan tindakan sosial, dapat dijadikan sebagai suatu paradigma sosiologi dalam memotret pendidikan agama Islam, dengan pendekatan seperti ini diharapkan mampu menjadi suatu solusi dalam mewujudkan tujuan pendidikan agama Islam sehingga pada akhirnya dapat mewujudkan sistem budaya Islam. Wallahu a'lam




























DAFTAR PUSTAKA


All, Abdullah.  Sosiologi Pendidikan dan Dakwah, Cirebon ; STAIN Press Cirebon bekerjasama dengan Penerbit Cakrawala Yogyakarta, 2007

___________ Sosiologi Islam, Bogor ; IPB Press; 2005

Dwi Susilo, Rachmad K., 20 Tokoh Sosiologi Modern, Biografi para Peletak Sosiologi Modern, Jogjakarta ; Ar-Ruzz Media, 2008

Henslin, James H., Sosiologi dengan Pendekatan Membumi (ter)) Kumanto Sunarto, Bandung ; Erlangga, 2007

Thomson Gale, a part of the Thomson Corporation.Talcott Parsonss from Encyclopedia of World Biography. www.bookrags.com

Tjondronegoro, Sediono MP, Perlunya Reorientasi Sosiologi Di Indonesia, www.ekonomirakyat.org

Widodo, Slamet, Perspektif Teori tentang Perubahan Sosial; Struktur Fungsional dan Psikologi Sosial, http://learning-of.slametwidodo.com


















PENDIDIKAN AGAMA ISLAM
DALAM PERSPEKTIF TALCOT PARSONS





MAKALAH
 Diajukan sebagai Bahan Diskusi pada:
Mata Kuliah    :  Sosiologi Pendidikan
Dosen              :  Prof. Dr. H. Abdullah Ali, M.A
  



















Oleh
SITI HAYATI
NIM. 5051030056







PROGRAM STUDI  :  PENDIDIKAN AGAMA ISLAM
PROGRAM PASCA SARJANA

INSTITUT AGAMA ISLAM NEGERI (IAIN)
SYEKH NURJATI CIREBON
2011




[1]  Abdullah Ali, Sosiologi Pendidikcrn dan Dakwah, Cirebon ; STAIN Press Cirebon bekerjasama dengan Penerbit Cakrawala Yogyakarta, 2007, hal. 36.
[2]  Lihat. www.bookrags.com Talcott Parsonss from Encyclopedia of World Biography. ©200_5-2006 Thomson Gale, a part of the Thomson Corporation.
[3]  Rachmad K. Dwi Susilo, 20 Tokoh Sosiologi Modern, Biografi para Peletak Sosiologi kfoderrr, Jogjakarta ; Ar-Ruzz Media, 2008, hal. 107 -108
[4]  Sediono MP Tjondronegoro, 1'erlrrrrya Reorientasi Sosiologi Di Indonesia, wwv.ekonomirakyat.org

[5] ________________, Sosiologi Islam. Bogor. IPB Press. 2005. hal 97
[6]  Widodo, Slamet, Perspektif Teori tentang Perubahan Sosial; Struktur Fungsional dan Psikologi Sosial, http://learning-of.slametwidodo.com
[7]  James H. Henslin, Sosiologi dengan Pendekatan Membumi (terj) Kumanto Sunarto, Bandung: Erlangga, 2007, hal 11
[8]  Lihat Rachmad K Dwi Susilo, hal 111
[9]  Lihat, Abdullah Ali, Sosiologi Pendidikan dan Dakwah, hal 36 - 41

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar