Rabu, 07 Desember 2011
Minggu, 04 Desember 2011
KONSEP UMUM MEDIA PEMBELAJARAN
1. Pengertian Media Pembelajaran
Media sering dikaitkan pula dengan kata pengajaran dan pendididkan. Oemar Hamalik dan Arif S. Sadiman menamakan alat bantu tersebut dengan istilah media pendidikan, berbeda dengan Ronald H. Anderson yang menyebutnya dengan istilah intruksional aids. Sementara itu, Yusufhadi Marso menggunakan istilah media pembelajaran. Oemar Hamalik (1989:11-12) berpendapat bahwa yang dimaksud dengan media pendidikan adalah : alat, teknik, dan metode yang digunakan dalam rangka lebih mengefektifkan komunikasi dan interaksi antara guru dan siswa dalam proses pendidikan dan pengajaran di sekolah. Ronald H. Anderson (1994:21) berpendapat bahwa yang dimaksud denga intruksional aids adalah media atau perlengkapan yang digunakan untuk membantu guru mengajar.
Melihat kegiatan yang diharapkan terjadi mealui kegiatan belajar mengajar adalah adanya perubahan tingkah laku pada peserta didik, maka kata pembelajaran lebih memeberikan ruanggerak bagi terjadinya perubahan tersebut. Untuk itu, istilah yang digunakan dalam buku ini adalah media pembelajaran. Dengan demikian dapat disimpulkan bahwa media pembelajaran yaitu segala sesuatu yang dirancang oleh seorang guru untuk mengomunikasikan bahan pembelajaran dalam rangka mencapai tujuan yang ditetapkan.
Perbedaan penggunan media dan alat peraga terletak fungsi dan substansinya. Sumber belajar dikatakan alat peraga jika hal tersebut fungsinya hanya sebagai alat bantu saja.sedangkan hal tersebut bisa dikatakan media jika sumber belajar itu merupakan bagian yang integral dari seluruh kegiatan belajar. Dari sini ada pembagian tugas dan tanggung jawab antara pengajar dan sumber media.
2. Asas Media
Hasil belajar seseorang diperoleh mulai dari pengalaman langsung (konkret) dan kenyataan yang ada lingkungan kehidupan seseorang, kemudian melalui benda tiruan, sampai kepada lambang verbal (abstrak). Perlu dicatat bahwa urutan ini tidak berarti proses belajar dan interaksi mengajar harus selalu dimulai dari pengalaman langsung, tetapi dimulai dengan jenis pengalaman paling sesuai dengan kebutuhan dan kemampuan kelompok siswa yang diihadapi dengan mempertimbangkan situasi belajarnya.
Pengalaman langsung akan memberikan kesan utuh dan bermakna mengenai informasi dan gagasan yang terkandung dalam pengalaman itu, oleh karena ia melibatkan indra penglihatan, pendengaran, penciuman, dan peraba. Ini dikenal dengan lerning by doing.
Tingkat keabstrakan akan semakin tinggi ketika pesan itu dituangkan ke dalam lambang-lambang seperti grafik atau kata. Jika pesan yang terkandung dalam lambang-lambang seperti itu, indra yang dilibatkan untuk menafsirkannya semakin terbatas, yakni indar penglihatan dan pendengaran. Meskipun tingkat partisifasi fisik berkurang, keterlibatan imajinatif semakin bertambah dan berkembang. Sesungguhnya pengalaman konkret dan pengalaman abstrak dialami silih berganti, hasil belajar dari pengalaman langsung berubah dan memperluas jangkauan abstraksi seseorang. Sebaliknya, kemampuan interprestasi lambang kata membantu seseorang untuk memahami pengalaman yang didalamnya ia terlibat langsung.
3. Nilai Media
Menurut M. Basyiruddin Usman, dalam bukunya media pembelajaran menyebutkan bahwa penggunaan media dalam proses pembelajaran mempunyai 8 nilai praktis sebagai berikut :
1. Media dapat mengatasi berbagai permasalahan yang dialami oleh siswa.
2. Media dapat mengatasi permasalahan yang ada di ruang kelas.
3. Media memungkinkan adanya interaksi antara siswa dengan lingkungan.
4. Media menghasilkan keragaman pengamatan.
5. Media dapat menanamkan konsep dasar yang benar, realistis, dan konkret.
6. Media dapat membangkitkan motivasi dan merangsang siswa untuk belajar.
7. Media dapat memebangkitkan keinginan dan minat yang baru.
8. Media dapat membeberkan pengalaman yang integral dari sesuatu yang konkret sampai pada sesuatu yang abstrak.
Berdasarkan pendapat diatas dapat disimpulkan bahwa penggunaan media baik visual, audio, maupun audio visual yang disesuaikan dengan berbagai aspek dalam pemilihannya akan memberikan manfaat yang sangat tinggi. Bagi seorang guru pemanfaatan media tersebut membantu dalam hal penyajian materi secara baik. Sedangkan bagi siswa bukan hanya termotivasi, tetapi juga memperoleh kebermaknaan dalam belajarnya. Demikian juga dari segi prosesnya akan terwujud komunikasi dan interaksi yang efektif dan efisien.
Selasa, 29 November 2011
MEREVISI PEMBELAJARAN
Sebagai salah satu proses dalam pembelajaran, maka seorang guru atau pendidik sejatinya melakukan revisi pembelajaran, kegiatan ini penting dilakukan untuk melihat kembali efektifitas dari berbagai langkah yang telah dilakukan oleh seorang guru dalam proses belajar mengajar. tujuan dari kegiatan ini adalah untuk memperbaiki apa-apa yang tidak baik atau kurang signifikan keberadaannya dalam proses pembelajaran.
Revisi ini akan tidak efektif manakala salah satu tahapan dalam proses pembelajaran tidak dilalui. Ini merupakan satu rangkaian yang tak terpisahkan satu dengan lainnya.
Secara sederhana dapat pula dikatakan kegiatan revisi pembelajaran ini seperti daur ulang. Atau pula sebagai data dari penilaian formatif untuk mengkaji kembali kesahihan analisa pengajaran yang dilakukan oleh seseorang guru.
Bacaan :
Achmad Noor Fatirul, Power Point Pengembangan Sistim Pembelajaran.
Melakukan Penilaian Sumatif
Istilah Penilaian sumatif yang sering kita dengar selama ini bermakna jenis penilaian yang berfungsi untuk menentukan angka kemajuan/hasil belajar siswa. Penilaian sumatifdilakukan untuk menilai hasil belajar siswa jangka panjang dari suatu proses belajar mengajar pada akhir Program pengajaran.
Biasanya Penilaian sumatif dilakukan pada akhir program pengajaran,artinya bahan pengajaran yang menjadisasaran evaluasi cukup luas dan banyak. Oleh karena itu penyusunan soal-soalnya harus didasarkan atas tujuan-tuajun pembelajaran umum atau standar kompetensi dan Kompetensi dasar dan harus representatif.
Penilaian sumatif bertujuan untuk menentukan angka kemajuan belajar siswa, oleh karenanya penilaian sumatif sangat memperhatikan Tingkat Kesukaran dan Daya Pembeda.
Dalam penilaian sumatif digunakan dua pendekatan, yaitu :
1. Pengolahan hasil penilaian sumatif berdasarkan ukuran mutlak (PAP)
Pada dasarnya pengolahan ini membandingkan hasil belajar siswa terhadap suatu patokan yang telah ditetapkan sebelumnya. Patokan yang sudah disepakati sebelumnya biasa disebut Tingkat Penguasaan Minimum atau KKM (kriteria Ketuntasan Minimun)
Jika pengolahan hasil berdasarkan ukuran/kritwria mutlak, maka yang harus dicapai ialah persentase jawaban yang benar yang dicapai oleh setiap siswa. Kemudian angka persentase tersebut diubah ke dalam skala evaluasi yang dikehendaki, umpamanya skala penilaian 1-10.
. 2. Pengolahan hasil penilaian berdasarkan norma relatif (PAN)
PAN yaitu penilaian yang membandingkan hasil belajar siswa terhadap hasil dalam kelompoknya. Pendekatan yang digunakan “apa adanya”dalam arti bahwa patokan pembanding semata-mata diambil dari kenyataan-kenyataan yang diperoleh pada saat penilaian itu berlangsung.
Untuk mengolah hasil penilaian yang berdasarkan norma relatif, digunakan nilai-nilai yang standar seperti nilai 0-10 (c-score), skla nilai 0-100 (T-score), dll
Pada penilaian sumatif, hasil penilaian biasanya digunakan untuk:
a. Menentukan kenaikan kelas
b. Menentukan angka raport
c. Mengadakan seleksi
d. Menentukan lulus tidaknya siswa
e. Mengetahui status setiap siswa dibandingkan dengan siswa lainnya dalam kelompok yang sama.
Demikian, mengungat urgensi melakukan sumatif sangat urgen maka sejatinya setiap pendidik melakukannya dengan sepenuh hati dan secara konsekwen.
MENGIDENTIFIKASI PERILAKU DAN KARATERISTIK AWAL SISWA
Aspek-aspek analisis pada kegiatan indentifikasi perilaku dan karakterisitk awal siswa. Dalam hal ini ada empat aspek kepribadian sipelajar yang tergolong pada kegiatan indentifikasi perilaku dan karakteristik awal , yaitu :
a. Kemampuan Dasar.
b. Latar belakang pengalaman.
b. Latar belakang pengalaman.
c. Latar belakang sosial.
d. Perbedaan individual.
Untuk teknik identifikasi perilaku awal siswa.dengan menggunakan kuesioner, interviuw, observasi dan tes. Sabjek yang memberikan insformasi diminta untuk mengidentifikasi tingkat pengusaan siswa dalam setiap perilaku khusus melalui skala penilaian.
Di samping mengidentifikasi perilaku awal mahasiswa, pengembang instruksional harus pula mengidentifikasi karakteristik siswa yang berhubungan dengan keperluan pengembangan instruksional. Tekhnik yang digunakan dalam mengidentifikasi karateristik awal siswa adalah sama dengan tekhnik yang digunkan dalam mengidentifikasi awal siswa, yaitu ; kuesioner, interviu, observasi dan tes.
Tujuan mengetahui karakteristik siswa adalah untuk mengukur, apakah siswa akan mampu mencapai tujuan belajarnya atau tidak; sampai di mana minat siswa terhadap pelajaran yang akan dipelajari. Bila siswa mampu, hal-hal apa yang memperkuat; dan bila tidak mampu hal-hal apa yang menjadi penghambat.
Hal-hal yang perlu diketahui tersebut adalah:
1. Faktor-faktor akademis
2. Faktor-faktor sosial
3. Kondisi belajar.
Sistem pembelajaran merupakan proses yang berlangsung secara berkesinambungan dari awal hingga berakhirnya proses pembelajaran. Untuk itu sebelum memulai pembelajaran guru perlu terlebih dahulu menyusun desain pembelajaran yang tepat sesuai dengan minat, motivasi, dan kebiasaan siswa.
Salah satu faktor yang cukup penting adalah minat belajar peserta didik, karena minat adalah sebagai penentu keberhasilan dalam mencapai tujuan pendidikan. Minat merupakan kekuatan yang mendorong individu dalam memberi perhatian terhadap suatu kegiatan tertentu.
Fungsi dari minat belajar dalam pendidikan adalah sebagai motor penggerak untuk melakukan perbuatan, sebagai penentu arah perbuatan dan melakukan apa yang harus dilakukan sehingga serasi dengan target yang hendak dituju.
Motivasi yang terdapat pada individu akan mewujudkan suatu perilaku untuk memenuhi “keinginan” atau kebutuhannya. Motivasi pada seseorang akan mewujudkan suatu perilaku untuk memenuhi suatu keinginan atau kebutuhannya. Perilaku manusia pada dasarnya berorientasi pada tujuan, yaitu dimotivasi oleh keinginan untuk mencapai tujuan tertentu. Kuatnya motivasi yang dimiliki individu akan banyak menentukan kualitas perilaku yang ditampilkannya, baik dalam konteks belajar, bekerja maupun dalam kehidupan lainnya
Hal-hal yang dapat dilakukan untuk meningkatkan motivasi belajar siswa adalah :
- Yakinkan siswa bahwa apa yang dipelajarinya bermanfaat bagi dirinya
- Yakinkan siswa bahwa ia akan mampu menguasai pelajaran yang dilakukan
- Upayakan situasi belajar yang menyenangkan
- Berikan Keteladanan
- Sertakan peserta didik dalam merancang dan menyusun target pembelajaran
- Gunakan model pembelajaran yang kreatif dan inovatif
- Sampaikan tujuan pembelajaran sebelum pembelajaran dimulai
- Yakinkan bahwa motivasi sangat menentukan keberhasilan belajar peserta didik.
- Beri kesempatan kepada peserta didik untuk dapat berinteraksi dan saling kerja sama
- Upayakan tersedianya sarana dan prasarana penunjang pembelajaran yang kondusif
MENGEMBANGKAN BUTIR TES ACUAN PATOKAN
Tes acuan patokan adalah salah satu dari model pengembangan desain instruksional Dick and Carey. Penilaian acuan patokan (PAP) biasanya disebut juga criterion evaluation merupakan pengukuran yang menggunakan acuan yang berbeda. Dalam pengukuran ini siswa dikomperasikan dengan kriteria yang telah ditentukan terlebih dahulu dalam tujuan instruksional, bukan dengan penampilan siswa yang lain. Keberhasilan dalam prosedur acuan patokan tegantung pada penguasaaan materi atas kriteria yang telah dijabarkan dalam item-item pertanyaan guna mendukung tujuan instruksional .
Tes acuan patokan (penilaian) berfungsi untuk mengukur kemampuan pebelajar seperti yang diperkirakan tujuan. Perkembangan tes dibuat pada proses desain pengajaran setelah pelajaran dikembangkan. Alasan utamanya adalah bahwa item tersebut harus berkaitan dengan tujuan prestasi. Prestasi yang diperlukan dalam tujuan tersebut harus sesuai dengan prestasi yang diperlukan dalam item tes atau tugas prestasi. Sifat dari item tersebut akan diberikan kepada pebelajar dan berfungsi sebagai kunci terhadap pengembangan strategi pengajaran
Melalui PAP berkembang upaya untuk meningkatkan kualitas pembelajaran dengan melaksanakan tes awal (pre test) dan tes akhir (post test). Perbedaan hasil tes akhir dengan test awal merupakan petunjuk tentang kualitas proses pembelajaran.
Pembelajaran yang menuntut pencapaian kompetensi tertentu sebagaimana diharapkan dan termuat pada kurikulum saat ini, PAP merupakan cara pandang yang harus diterapkan.
PAP juga dapat digunakan untuk menghindari hal-hal yang tidak diinginkan, misalnya kurang terkontrolnya penguasaan materi, terdapat siswa yang diuntungkan atau dirugikan, dan tidak dipenuhinya nilai-nilai kelompok berdistribusi normal. PAP ini menggunakan prinsip belajar tuntas (mastery learning).
Penilaian Acuan Patokan mempunyai beberapa ketentuan sebagai berikut:
- Penilaian acuan patokan memerlukan adanya tujuan evaluasi spesifik sebagai penentuan fokus item yang diperlukan. Tujuan tersebut termasuk tujuan intruksional umum dan tujuan intruksional khusus
- pengukuran PAP memerlukan sample yang relevan, digunakan sebagai subjek yang hendak dijadikan sasaran evaluasi. Sample yang diukur mempresentasikan populasi siswa yang hendak menjadi target akhir pengambilan keputusan.
- Untuk mandapatkan informasi yang diinginkan tentang siswa, pengukuran memerlukan item-item yang disusun dalam satu tes dengan menggunakan aturan dasar penulisan instrument.
- Penilaian acuan patokan mempersyaratkan perumusan secara spesifik perilaku yang akan diukur.
- Penilaian acuan patokan menggunakan macam tes yang sama seperti tes subjektif, tes karangan, tes penampilan atau keterampilan.
- Penilaian acuan patokan dinilai kualitasnya dari segi validitas dan reliabilitasnya.
- Penilaian acuan patokan digunakan ke dalam pendidikan walaupun untuk maksud yang berbeda.
- Penilaian acuan patokan biasanya mengukur perilaku khusus dalam jumlah yang terbatas dengan banyak butir tes untuk setiap perilaku.
- Penilaian acuan patokan menekankan penjelasan tentang apa perilaku yang dapat dan yang tidak dapat dilakukan oleh setiap peserta tes.
- Penilaian acuan patokan mementingkan butir-butir tes yang relevan dengan perilaku yang akan diukur tanpa perduli dengan tingkat kesulitannya.
- Penilaian acuan patokan digunakan terutama untuk penguasaan.
Bagi seorang perancang pembelajaran harus mengembangkan butir tes acuan patokan, karena hasil tes pengukuran tersebut berguna untuk:
1. Mendiagnosis dan menempatkan dalam kurikulum.
2. Men-checking hasil belajar dan kesalahan pengertian sehingga dapat diberikan pembelajaran remedial sebelum pembelajaran dilanjutkan.
3. Menjadi dokumen kemajuan belajar.
Dalam mengembangkan butir-butir tes acuan patokan, Dick and Carrey (1985) merekomendasikan empat macam tes acuan patokan, yaitu:
- Entry behavior test. Tes ini diberikan kepada pebelajar sebelum memulai pembelajaran. Tes ini berguna untuk mengukur keterampilan syarat atau keterampilan yang harus sudah dikuasai sebelum pembelajaran dimulai. Keterampilan syarat akan muncul di bawah garis entry behavior.
- Pre-test. Tes ini dilakukan pada awal pembelajaran untuk mengetahui apakah pebelajar sudah menguasai beberapa atau semua keterampilan yang akan diajarkan. Biasanya pretest dan entry behavior test dijadikan satu. Hasil dari tes entry behavior dapat digunakan desainer untuk mengetahui apakah pebelajar siap memulai pembelajaran, sedangkan dari hasil pretest, desainer dapat memutuskan apakah pembelajaran akan menjadi terlalu mudah untuk pebelajar.
- Practice test. Tes ini diberikan selama siswa sedang dalam proses belajar. Tes ini berfungsi untuk melihat apakah siswa memang telah dapat menangkap apa yang sedang dibicarakan dan juga untuk membuat pebelajar lebih aktif berpartisipasi selama pembelajaran. Tes ini berisi keterampilan yang lebih sedikit dan lebih fokus pada materi per pertemuan daripada per unit. Hasil tes ini digunakan instruktur untuk memberikan feedback dan untuk memonitor pembelajaran.
- Post-test. Tes ini paralel dengan pre-test. Sama dengan pre-test, post-test mengukur tujuan pembelajaran. Tujuan yang terutama dari tes ini adalah agar desainer dapat mengidentifikasi area pembelajaran yang tidak bisa dilakukan dengan baik. Jika pebelajar gagal dalam tes, desainer harus dapat mengidentifikasi dalam proses pembelajaran yang mana tidak dimengerti oleh siswa. Tes ini merupakan tes acuan patokan yang mencakup pengukuran semua tujuan intruksional khusus yang ada terutama tujuan intruksional yang bersifat terminal.
Dalam Mendesain Tes, pertimbangan pertama adalah menyesuaikan bidang pelajaran dengan item atau tipe tugas penilaian. Objektif untuk intelektual skill lebih kompleks dan biasanya menggunakan model objektif, kreasi produk atau pertunjukan langsung. Penilaian untuk ranah afektif juga kompleks. Biasanya tidak ada cara langsung untuk mengukur tingkah laku seseorang. Penilaian di ranah ini biasanya dilakukan dengan observasi. Penilaian ranah psikomotor biasanya dilakukan dengan mendemonstrasikan tugas
Metode untuk menentukan level penguasaan menggunakan acuan norma. Pendekatan yang kedua, bisa digunakan cara statistik.
kemudian dalam menulis Item Tes. Ada beberapa kriteria tes yang berkualitas, yaitu:
Kriteria berpusat pada siswa (learner centered creteria). Soal tes dan tugas harus sama dengan tujuan indikator, harus cocok dengan sikap, termasuk konsep dan aksi. Sebagai contoh, siswa harus dapat menjodohkan deskripsi dari konsep dengan tabel yang telah ditentukan.
Kriteria berpusat pada kontek (context centered criteria). Soal tes dan tugas harus dapat disesuaikan dengan karaktesistik dan kebutuhan siswa. Kriteria dalam area ini adalah mempertimbangkan seperti tingkat perbendaharaan kata dan bahasa siswa, tingkat motivasi dan minat, pengalaman dan latar belakang, dan kebutuhan khusus. Diharapkan dengan adanya tingkatan tersebut siswa dapat menjawab pertanyaan dengan tepat. Pertimbangan lain yang diperhatikan adalah pengalamandan latar belakang siswa.
Kriteria berpusat pada penilaian (assessment centered criteria). Penilaian yang dilakukan oleh guru terhadap siswa dapat dijadikan informasi mengenai kemampuan yang dimiliki oleh siswa. Guru harus meluangkan lebih banyak waktu untuk mengkonstruk suatu simulasi soal yang baik. Yang tujuan untuk mengetahui tingkat penguasaan siswa mulai dari yang mudah ke tingkatan yang lebih sulit.
Untuk Setting Penguasaan Kriteria. Jika tes item memerlukan sebuah format respon yang memungkinkan siswa dapat menebak jawaban dengan benar anda dapat memasukkan beberapa tes item paralel untuk tujuan yang sama jika kemungkinan menebak jawaban yang benar kecil kemungkinan, anda dapat memutuskan satu atau dua item untuk menentukan kemampuan siswa
Jenis-jenis Item, pertanyaan penting adalah jenis tes item atau penilaian tugas apa yang paling baik dalam menilai kinerja siswa? Perilaku tertentu dalam objektif memberikan point-point penting terhadap jenis item atau tugas yang dapat digunakan untuk menguji perilaku.
Test harus terdapat petunjuk yang jelas, singkat. Permulaan tes biasanya menyebabkan kecemasan pada siswa yang akan dinilai. Oleh karena itu tes seharusnya mengurangi keraguan pada pikiran siswa mengenai apa yang akan mereka kerjakan dalam menyelesaikan test.
- Judul test seharusnya memberikan kesan kepada siswa mengenai content atau isi daripada kata-kata sederhana.
- Pernyataan singkat yang menerangkan objective atau performance yang diujikan
- Siswa diberitahu untuk menebak jawaban jika mereka tidak yakin dengan jawaban yang benar.
- Petunjuk khusus seharusnya diucapkan dengan benar.
- Siswa diberitahu agar menulis nama mereka atau identitas mereka.
- Siswa seharusnya diberitahu mengenai penggunaan perlengkapan khusus dalam menyelesaikan
Model Desain Instruksional
Model adalah seperangkat prosedur yang berurutan untuk mewujudkan suatu proses, seperti penilaian suatu kebutuhan, pemilihan media, dan evaluasi. Sedangkan Istilah pengembangan sistem instruksional (instructional systems development) dan disain instruksional (instructional design) sering dianggap sama, atau setidak-tidaknya tidak dibedakan secara tegas dalam penggunaannya, meskipun menurut arti katanya ada perbedaan antara "disain" dan "pengembangan". Kata "disain" berarti "membuat sketsa atau pola atau outline atau rencana pendahuluan". Sedang "mengembangkan" berarti "membuat tumbuh secara teratur untuk menjadikan sesuatu lebih besar, lebih baik, lebih efektif, dan sebagainya."
Model sistem instruksional adalah metode yang digunakan dalam proses pembelajaran yang sering dipakai oleh banyak tenaga pengajar, model instruksional menitikberatkan pembuatan keputusan intelektual oleh guru sebelum dan sesudah pengajaran.
1. Menentukan tujuan-tujuan instruksional secara spesifik dalam bentuk perilaku siswa.
2. Mengadakan penilaian pendahuluan terhadap keadaan siswa pada saat ini dalam hubungannya dengan tujuan-tujuan instruksional tersebut.
3. Menilai pencapaian tujuan-tujuan tersebut oleh siswa.
Model instruksional terdiri atas empat komponen yang secara hakiki berbeda satu sama lainnya :
a. Penentuan tujuan-tujuan yang spesifik
b. Penilaian pendahuluan (prosedur penilaian yang lebih banyak dari pada hanya tes ter tulis)
c. Pengajaran
d. Penilaian
Beberapa model pengembangan instruksional, antara lain:
- Model PPSI
PPSI merupakan singkatan dari prosedur pengembangan sistem intruksionalyang terdiri dari seperangkat komponen yang saling berhubungan dan bekerjasama satu sama lain secara fungsional dan terpadu dalam rangka mencapai tujuan yang diharapkan.
Model pengembangan intruksional PPSI ini memiliki 5 langkah pokok yaitu:
1. Perumusan tujuan pembelajaran
2. Pengembangan alat evaluasi
3. Menentukan kegiatan Belajar-Mengajar
4. Merencanakan Program KBM
5. Pelaksanaan
- Model Bela H. Banathy
Pengembangan Instruksional model Banathy melalui enam langkah sebagai berikut:
1. Merumuskan tujuan (Formulate objectives)
2. Mengembangkan test (develop test)
3. Menganalisis kegiatan belajar (analyze learning task)
4. Mendesain struktur instruksional (design system)
5. Melaksanakan kegiatan dan mengetes hasil (Implement and test output)
6. Mengadakan perbaikan (change to improve)
- Model Kemp
Pengembangan instruksional yang dikembangkan oleh Kemp (1977), terdiri dari 10 langkah.
1. Penentuan tujuan instruksional umum (TIU)
2. Menganalisis karakteristik siswa
3. Menentukan tujuan instruksional khusus (TIK)
4. Menentukan materi pelajaran
5. Mengadakan penjajakan awal (preassesment)
6. Menentukan strategi belajar dan mengajar yang relevan
7. Mengkoordinasi sarana penunjang yang dibutuhkan
8. Mengadakan evaluasi
Langganan:
Postingan (Atom)